REMAJA DAN ROKOK


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial (TP-KJM, 2002).
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bias dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka.

Tujuan dan Manfaat
- Mengidentifkasi dan memberikan gambaran kenakalan yang dilakukan remaja.
- Untuk mengetahui hubungan antara kenakalan remaja dengan keberfungsian sosial keluarga.




BAB II
PEMBAHASAN

Remaja dan Rokok

Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya.
Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan         ( reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma ( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanyaatau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya.

Penyebab Remaja Merokok

1. Pengaruh Orangtua

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson,
Pengantar psikologi, 1999:294).

2. Pengaruh Teman.

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan temanteman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

3. Faktor Kepribadian.

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999).

4. Pengaruh Iklan.

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

Remaja dan Perilaku Hidup Sehat

Remaja yang bersikap hidup sehat adalah remaja:
1.      Mengerti tujuan hidup
2.      Memahami faktor penghambat maupun pendukung perkembangan kematangannya.
3.      Bergaul dengan bijaksana
4.      Terus menerus memperbaiki diri
Dengan demikian remaja dapat diharapkan menjaga remaja yang handal dan sehat. Remaja harus mengetahui dirinya memiliki kekhawatiran dan harapan, dengan kata lain remaja harus mengerti dirinya sendiri. Faktor yang berkembang pada setiap remaja antara lain fisik, intelektual, emosional, spiritual. Kecepatan perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Fisik 35%
2. Intelektual 20%
3. Emosional 30%
4. Spiritual 15%
Faktor fisik berkembang secara tepat sedangkan faktor lainnya berkembang tidak sama besar. Perkembangan yang tidak seimbang inilah yang menimbulkan kejanggalan dan berpengaruh terhadap perilaku remaja. Bagaimana seseorang remaja melihat dirinya sendiri, orang lain serta hubungannya dengan orang lain termasuk orang tua dan pembina? Kadang-kadang  ia ingin dianggap sebagai anak-anak, orang dewasa, orang lain dianggap sebagai orang tua, teman. Hubungan dirinya dengan orang lain dianggap bersifat:
1. Otoriter ------- demokratis
2. Tertutup ------- terbuka
3. Formal ------- informal
Semua tersebut di atas dalam keadaan "dalam perjalanan menuju" Sehingga dapat dilihat segalanya masih dalam proses dan tidak berada dalam kutub atau masa anak-anak ataupun kutub atau masa dewasa.
"Dalam perjalanan menuju" ini yang menonjol adalah:
1.      Fisik yang kuat
2.      Emosi yang cepat tersinggung
3.      Sering mengambil keputusan tanpa berfikir panjang
4.      Pertimbangan agama, falsafah, ataupun tatakrama hanya kadang-kadang saja dipakai Dan "Dalam perjalanan menuju" yang paling penting diketahui oleh remaja adalahbagaimana remaja dapat berproses :
·         Menuju fisik yang ideal
·         Menuju emosi kelakian ataupun kewanitaan yang utuh
·         Menuju cara berfikir dewasa
·         Menuju mempercayai hal-hal yang agamais, bersifat falsafah dan bersifat tatakrama

Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.



















BAB III
PENUTUP

Demikian makalah tentang Kenakalan Remaja yang saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

Kesimpulan

Remaja yang baik adalah remaja:
1.      Mengerti tujuan hidup
2.      Memahami faktor penghambat maupun pendukung perkembangan kematangannya.
3.      Bergaul dengan bijaksana
4.      Terus menerus memperbaiki diri




KONSEPSI DASAR FILSAFAT PANCASILA



Text Box:
2012
 
Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada ideologi-ideologi di dunia, namun terbentuknya Pancasila melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia. Secara kausalitas Pancasila sebelum disahkan menjadi dasar filsafat negara nilai-nilainya telah ada dan berasal dari bangsa Indonesia sendiri yang berupa nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan dan nilai-nilai relegius. Pancasila dibedakan atas dua macam yaitu : asal mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung.
Adapun pengertian asal mula pancasila tersebut adalah sebagai berikut :
1. Asal Mula yang Langsung
Pengertian asal mula secara ilmiah dibedakan atas empat macam yaitu : kausa materialis, kausa formalis, kausa efficient dan kausa finalis (Bagus, 1991 :158). Teori kausalitas ini dikembangkan oleh Aristototeles, adapun berkaitan dengan asal mula yang langsung tentang pancasila adalah asal mula yang langsung terjadinya Pancasila sebagai dasar filsafat negara yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang Proklamasi Kemerdekaan yaitu sejak dirumuskan oleh para pendiri negara sejak sidang BPUPKI pertama, Panitia Sembilan, sidang BPUPKI kedua serta sidang PPKI sampai pengesahannya.
Adapun rincian asal mula langsung Pancasila menurut Notonaogoro sebagai berikut :
(a) Asal Mula Bahan (Kausa Materialis)
Bangsa Indonesia adalah sebagai asal dari nilai-nilai Pancasila. Sehingga Pancasila itu pada hakikatnya nilai-nilai yang merupakan unsur-unsur Pancasila digali dari bangsa Indonesia yang berupa nilai-nilai adat istiadat kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

(b) Asal Mula Bentuk (Kausa Formalis)
Hal ini dimaksudkan bagaimana asal mula bentuk atau bagaimana bentuk Pancasila itu dirumuskan sebagaimana termuat dalam pembukaan UUD 1945. maka asal mula bentuk Pancasila adalah Ir. Soekarno bersama-sama Drs. Moh. Hatta serta anggota BPUPKI lainnya merumuskan dan membahas Pancasila terutama dalam hal bentuk, rumusan serta nama Pancasila.
(c) Asal Mula Karya (Kausa Effisien)
Kausa efisien atau asal mula karya yaitu asal mula yang menjadikan Pancasila dari calon dasar negara menjadi dasar negara yang sah.
(d) Asal Mula Tujuan (Kausa Finalis)
Pancasila dirumuskan dan dibahas dalam sidang-sidang para pendiri negara, tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara. Para pendiri negara juga berfungsi sebagai kausa sambungan karena yang merumuskan dasar filsafat negara.
2. Asal Mula yang Tidak Langsung
Secara kausalitas asal mula yang tidak langsung Pancasila adalah asal mula sebelum proklamasi kemerdekaan. Pancasila adalah terdapat pada kepribadian serta dalam pandangan hidup sehari-hari bangsa Indonesia. Asal mula tidak langsung Pancasila bilamana dirinci adalah sebagai berikut :
1.      Unsur-unsur Pancasila tersebut sebelum secara langsung dirumsukan menjadi dasar filsafat negara, nilai-nilanya yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai keyakinan dan nilai keadilan telah ada dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia sebelum membentuk negara.
2.      Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum mebentuk negara, yang berupa nilai-nilai adat istiadat, nilai kebudayaan serta nilai-nilai religius. Nilai-nilia tersebut menjadi pedoman dalam memecahkan problema kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
3.      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asal mula tidak langsung Pancasila pada hakikatnya bangsa Indonesia sendiri, atau dengan kata lain perkataan bangsa Indonesia sebagai ‘kausa materialis’ atau sebagai asal mula tidak langsung nilai-nilai Pancasila.
Berdasarkan tinjauan Pancasila kausalitas tersebut di atas maka memberikan pemahaman perspektif pada kita bahwa proses terbentuknya Pancasila melalui suatu proses yang cukup panjang dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Indoneisa secara yuridis dalam kenyataannya unsur-unsur Pancasila telah ada pada bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari berupa nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai-nilai religius. Nilai-nilai tersebut yang kemudian diangkat dan dirumsukan oleh para pendiri negara diolah dibahas yang kemudian disahkan oleh PPKI pada tenggal 18 Agustus 1945. Berdasarkan pengertian tersebut ,
bangsa Indonesia ber-Pancasila dalam tiga asas atau ‘Tri Prakara’ yang rinciannya adalah sebagai berikut : Pertama : bahwa unsur-unsur Pancasila sebelum disahkan menjadi dasar filsafat negara secara yuridis sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai asas-asa dalam adat-istiadat dan kebudayaan dalam arti luas (Pancasila Asas kebudayaan). Kedua : Demikian juga unsur-unsur Pancasila telah terdapat pada bangsa Indonesia sebagai asas-asas dalam agama-agama (nilai-nilai religius) (Pancasila Asas Religius). Ketiga : Unsur-unsur tadi kemudian diolah, dibahas dan dirumuskan secara seksama oleh para pendiri negara dalam sidang-sidang BPUPKI, Panitia ‘Sembilan’ (Pancasila Asas Kewarganegaraan). Oleh karena itu Pancasila yang terwujud dalam tiga asas tersebut atau ‘TriPrakara’ yaitu Pancasila Asas kebudayaan, Pancasila Asas Religius, dan Pancasila Asas Kewarganegaraan.

Inti Mutlak Kehidupan Manusia
Dalam tata hidup manusia secara alami yang menjadi kebiasaan, sebagai asal mula pancasila berupa bahan di cari inti-inti kesamaanya, yang didalama kehidupan manusia ada tiga pokok yaitu:
a.       Persoalan hidup menghadapi diri sendiri
b.      Persoalan hidup menghadapi sesama manusia
c.       Persoalan hidup menghadapi tuhan
Secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut
Persoalan hidup menghadapi diri sendiri
Yaitu persoalan dalam menghadapi tuntutan pribadi sendiri termasuk juga hubungan dengan mahkluk lain. Setiap manusia di dunia ini mempunyai rasa ingin hidup secara manusiawi sesuai dengan hal-hal yang diinginkan sesuai tuntutan hati nuraninya atau kata hatinya, menjalankan hal sesuatu yang di pandang buruk.
Persoalan hidup menghadapi sesama manusia
Manusia menghadapi sesame manusia sebagai mahluk sosial , yang artinya membutuhkan mahluk lain, tidak dapat berdiri sendiri. Oleh karena itu, manusia memiliki lingkaran persrikatan hidup, baik kecil maupun besar. Dalam hal ini setiap manusia secara kodrati ingin hidup bersama sesuai nilai-nilai manusiawi
Persoalan hidup menghadapi tuhan
Yaitu persoalan menghadapi sesuatu Dzat yang berkuasa didalam diri manusia. Setiap manusia pada dasarnya memiliki keyakinan bahwa ada sesuatu Dzat yang berkuasa diluar dirinya. Yang disebut dengan istillah “Tuhan”. Adapun pengakuan dan keyakinan tentang adanya Dzat tuhan.




Lima dasar yang merupakan inti mutlak tata hidup manusia sebagai ringkasan dari tujuh macam dasar yang telah dibacarakan di atas adalah sebagai inti-mutlak pancasila, yaitu:
1.      Kemanusiaan
2.      Persatuan
3.      Kerakyatan
4.      Keadilan
5.      Ketuhanan
Kelima hal sebagai inti-mutlak ini merupakan bahan dasar untuk merumuskan Pancasila yang bersifat umum, dan di dalam tata-urutannya “Ketuhanan” di tempatkan paling pertama.

INTENSI DAN EKSTENSI PANCASILA
penalaran dalam filsafat adalah membicarakan tentang konsep konsep umum yang merupakan generalisasi serta abstraksi dari pengalaman beberapa hal maupun proses-proses tertentu.
Intensi Inti-mutlak Pancasila
Setiap term atau konsep mempunyai intensi atau konotasi. Intensi adalah keseluruhan arti yang di maksud oleh suatu term.
1.      Hakikat Abstrak Pancasila
Term di tinjau dari segi intensinya ada yang masuk dalam kelompok term hakikat dan ada yang masuk dalam kelompok term sifat. Khusus tentang term hakikat ini adalah. Konsep yang terkandung didalamanya menunjuk pada inti mutlaknya yang berdiri sendiri  dan tidak ada perbedan tingkatan.
·         Hakikat konkrit, yaitu menunjuk ke “hal” nya sesuatu kenyataan yang berkualitas dan berekstisensi,
·         Hakikat abstrak, yaitu menyatakan suatu kualitas yang terlepas dari eksistensi tertentu.

2.      Sifat abstrak pancasila
Term ditinjau dari segi intensisnya sebagaimana dikemukakan di atas, disamping ada yang masuk term hakikat juga ada yang masuk di dalam kelompok term sifat. Term sifat ini juga dibedakan antara siifat konkrit dan sifat abstrak.
·         Sifat Konkrit, yaitu mrnunjuk ke pen “sifatan” nya suatu kenyataan yang berkualitas dan berekstitensi
·         Sifat Abstrak, yaitu menyatakan pensifatan yang tidak berekstitensi

Ekstensi Inti-mutlak Pancasila
Setiap term dismaping mempunyai intensi juga mempunyai ekstensi ataupun denotes. Ekstensi adalah keseluruhan hal yang ditunjuk oleh term, atau keseluruhan hal sejauh mana term itu dapat di terapkan.
Term ataupun konsep, berdasarkan ekstensinya dapat di bedakanb menjadi term umum dan term khusus.
·         Term umum yaitu dapat mencakup keseluruhan hal yang di tunjuk tiada terkecualinya. Term umum di bedakan antara dua macam
1.      Universal   : sifat umum yang berlaku didalamnya tidak terbatas oleh ruang dan waktu
2.      Kolektif     : sifat umum yang berlaku hanya menunjuk pada suatu kelompok tertentu sebagai kesatuan
·         Term khusus yaitu hanya menunjuk sebagian dari keseluruhan sekurang-kurangnya satu bagian atau satu hal. Term khusus juga di bedakan antara dua macam
1.      Partikular   : sifat khusus yang menunjuk di dalamnya hanya menunjuk sebagian tidak tertentu dari suatu keseluruhan
2.      Singular     : sifat khusus di dalamanya hanya menunjuk pada satu hal tertentu

Dua Sifat Umum Dalam Pancasila
Bahan dasar sebagai inti-mutlak pancasila merupakan “ pedoman hidup” buat ummat manusia pada dasarnya adalah sama, bukan hanya bangsa indonesia saja. Karena dasar-dasar itu dirumuskan dari inti-inti kehidupan manusia pada umumnya.  
Rumusan Pancasila yang bersifat umum kolektif jika di analisis berdasarkarkan uraian dapat dibedakan menjadi dua bagian.
Universal:        Dapat digunakan bukan hanya diindonesia saja, tetapi kemungkinan juga di gunakan pedoman hidup bagi Negara lain.
1.      Ketuhanan yang maha esa
2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.      Kerakyatan yang dipimpin oleh
Kolektif:          hanya berlaku pada satu kelompok tertentu, dalam arti hanya berlaku diindonesia saja
1.      Persatuan Indonesia
2.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

PERKEMBANGAN INTI-MUTLAK PANCASILA
Lima hal yang sebagai pokok persoalan dalam kehidupan manusia itu, pengertiannya sejak dahulu sampai sekarang mengalami proses perkembangan, sesuai dengan proses perkembangan alam. Pikiran manusia yang berdasarkan proses perkembangan.
A.    Fase Berburu
Merupakan fase pertama dari hidup manusia bermasyarakat, yaitu sejak manusia pertama ada, manusia hidup dengan bebas, tidak ada ikatan. Segala sesuatu tersedia di alam bebas.


B.     Fase Berternak
Ini merupakan fase kedua, yaitu manusia yang tadinya hidup dngan hasil berburu dan mencari ikan. Lama-kelamaan mereka mengerti bahwa hewan yang biasa mereka buru dapat dipelihara.
C.     Fase Cocok Tanam
Di dalam pemeliharaan binatang itu, manusia lebih terikat pada tempat, bukan saja mereka memberi makan pada dirinya, melainkan pada hewan tersebut juga. Yang akhirnya membuat mereka berfikir untuk bercocok tanam.
D.    Fase kerajinan
Berdasarkan pengalaman manusia bercocok tanam, bila tanahnya di beri air dan dibolak balik dan hasilnya lebih memuaskan dari pada di tebarkan begitu saja. Akhirnya timbul pemikiran untuk membuat alat-alat semacam bajak dan cangkul dan lain-lain.
E.     Fase Industri
Fase industry ini merupakan fase kelima yaitu termasuk pada masa sekarang ini, manusia dididik dalam masyarakat yang setiap harinya membutuhkan barang-barang dari hasil industry, baik dari industry kecil maupun besar.

Tinjauan Inti-mutlak Kehidupan Manusia
Dalam perkembangan dasar- dasar pengertian pancasila dalam perkembangan masyarakat ini, jelas bahwa landasan pancasila terdapat pada setiap manusia, baik pada bangsa2 primitif maupun yang sudah maju. Hanya perbedaan konsep Inti-multak Pancasila dalam perkembangan fase masyarakat itu tidak sama. Ada perkembangannya cepat dan juga ada pula yang lamban.





ISI ARTI DAN KEPRIBADIAN PANCASILA
Inti mutlak pancasila yang merupakan landasan pancasila, penjelasannya secara sederhana sudah di bicarakan yang sifatnya abstrak umum universal. Dalam bagian ini akan dijabarkan khusus isi dan arti dari kelima sila pancasila, atau disebut juga hakikat pancasila.

Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha Esa
  1. Mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima (sebab pertama) yaitu Tuhan yang Maha Esa
  2. Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya.
  3. Tidak memaksa warga negara untuk beragama.
  4. Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama.
  5. Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing.
  6. Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama.
Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  1. Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan
  2. Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa.
  3. Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.
Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia
  1. Nasionalisme.
  2. Cinta bangsa dan tanah air.
  3. Menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia.
  4. Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit.
  5. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan.
Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
  1. Hakikat sila ini adalah demokrasi.
  2. Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama.
  3. Dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama.
Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
  1. Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat.
  2. Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing.
  3. Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.
Sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila
Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu , mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.
Sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila.
  1. Menghormati anggota keluarga
  2. Menghormati orang yang lebih tua
  3. Membiasakan hidup hemat
  4. Tidak membeda-bedakan teman
  5. Membiasakan musyawarah untuk mufakat
  6. Menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing
  7. Membantu orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemampuan sendiri
Di jaman yang serba modern saat ini, banyak orang yang tidak lagi mengingat sila-sila dalam Pancasila. Sungguh tragis memang, mengingat bagaimana sejarah Pancasila diciptakan dan bagaimana perasaan para pahlawan pejuang kemerdekaan melihat hal ini akan sulit untuk digambarkan kepedihannya. Mereka berjuang tak memikirkan nyawa supaya bangsa kita dapat merdeka, bisa makan minum dan nongkrong sesuka hati. Namun justru kita dengan santainya melupakan ajaran mereka yang juga merupakan warisan satu-satunya.
Sungguh suatu hal yang patut disyukuri bahwa bangsa Indonesia pada akhirnya bisa merdeka. Namun yang menjadi sesuatu yang mengusik dan memprihatinkan adalah bahwa generasi muda saat ini menjadi buta mata hatinya. Banyak diantara mereka yang meremehkan bahkan cenderung melecehkan secara langsung atau tak langsung perjuangan para pendahulu kita dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Padahal jika para pahlawan kita tidak berjuang, mana mungkin kita bisa merdeka? Usaha nyata harus ada seiring dengan do’a kepada Yang Maha Kuasa tentunya.
Hal ini tentu berkaitan dengan Pancasila yang merupakan peninggalan para pejuang supaya kita dapat bersatu padu dalam sebuah bangsa, menjadi penjamin bahwa Sumpah Pemuda bisa dilaksanakan dengan baik. Hal ini dijelaskan dalam sila-sila Pancasila yang memiliki isi dan makna sebagai berikut:


  1. Ketuhanan yang Maha Esa
Sebagai makhluk yang memiliki Tuhan, apapun agama dan kepercayaan yang kita anut, seharusnya kita menjadi pribadi yang lebih baik. Sungguh suatu ironi bahwa antar umat beragama terkadang terjadi bentrokan, padahal di masa lalu kita sudah berkomitmen untuk saling menghargai dan menghormati.
  1. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Manusia yang memiliki Tuhan, tentunya harus adil dan beradab. Sungguh suatu hal yang aneh jika saat ini tidak banyak orang yang menganggap manusia lain tidak lebih berharga daripada dirinya. Pembunuhan terjadi di mana-mana, pertikaian karena masalah yang sebenarnya tidak penting. Dimana keberadaban kita?
  1. Persatuan Indonesia
Orang yang beradab tentu saja harus bersatu. Seharusnya orang yang beradab mengambil hikmah dari setiap perbedaan yang ada, bukan menjadikan perbedaan itu sebagai sumber konflik.
  1. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Jalan musyawarah dan kekeluargaan seharusnya dikedepankan dalam penyelesaian suatu masalah. Namun yang ada saat ini justru bertolak belakang. Masyarakat lebih menyukai menggunakan jalan kekerasan daripada musyawarah dan melupakan nilai-nilai luhur kekeluargaan yang telah ada selama ratusan tahun di Indonesia.


  1. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Kesenjangan sosial dapat terjadi jika kita hanya mementingkan kelompok dan golongan tertentu. Padahal sebagai bangsa yang beradab, kita harus mengakomodasi kepentingan semua golongan untuk mencapai kesejahteraan bersama.
Notonegoro dalam buku pancasila secara ilmiah popular menjelaskan tentang hakikat secara metafisis yang dibedakan menjadi tiga macam.
1.      Hakikat abstrak merupakan kesatuan unsur unsur yang bersama menjadikan halnya yang bersangkutan ada terdiri dari unsur jenis dan unsur pembeda
2.      Hakikat pribadi merupakan penjelmaan dari hakikat abstrak. Hakikat pribadi terdiri atas unsur dasar jenis dan sifat khususyang terikat oleh ruang dan waktu adanya hal sesuatu dalam kenyataan keadaan.
3.      Hakikat konkrit merupakan penjelmaan dari hakikat abstrak dan hakikat pribadi. Hakikat konkrit terdiri atas unsur  dasar jenis dan sifat khusus serta sifat kebetulan tergantung ruang waktu dan kenyataan keadaan.

Dengan adanya tiga macam hakikat tersebut berarti ada tiga macam kepribadian, yaitu:
1.      Kepribadian kemanusiaan adalah sifat yang menyertai hakikat abstrak umum universal yang dapat membedakan manusia dengan mahluk lain.
2.      Kepribadian kebangsaan adalah sifat yang menyertai hakikat pribadi. Yang merupakan hakikat kemanusiaan yang terjelmah sebagai sifat khas kebangsaan, yaitu kesatuan sifat sifat tetap terlekat pada kelompok manusia yang tidak berubah.

3.      Kepribadian perorangan adalah sifat yang menyertai hakikat konkrit, dan merupakan kesatuan sifat hakikat kemanusiaan dan sifat hakikat kebangsaan serta sifat yng terdapat pada perorangan yang satu dengan yang lainnya berbeda.