bukti islam masuk ke indonesia



  Beberapa bukti sejarah mengenai masuknya islam di Indonesia adalah berupa prasati islam (kebanyakan batu-batu nisan dan sejumlah catatan para musafir). Dalam bukti-bukti ini banyak ditemukan tulisa-tulisan yang menggunakan huruf dan bahasa arab. Isi dari prasasti ini yaitu tentang kehidupan dari para penyebar agama islam. Misalnya, batu nisan tertua yang masih ada dan masih dapat dibaca dengan jelas, ditemukan di leran, Jawa Tengah dan berangka tahun 475 H (1082). Batu nisan yang ditemukan ini milik seorang muslimah yang bernama Maimun. Di amping itu juga ditemukan batu nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al-Basir di Sumatera Utara.
              Serangkaian penemuan batu-batu nisan yang bertuliskan bahasa arab ini menandakan bahwa ajaran islam berkembang di Indonesia. Setiap batu nisan ditemukan memilki cerita dan kejayaan dari pemilik batu nisan tersebut dalam mengajarkan ajaran islam di daerahnya. Disamping batu nisan juga banyak ditemukan kitab-kitab Al-Qur’an kuno yang ditulis oleh orang indonesia pada tahun 1211 M. Al-Qur’an tersebut juga menjadi bukti berkembnagnya ajaran islam pada waktu itu serta juga ditemukan berbagai bangunan masjid tuan, seperti masjid Demak da Jawa Tengah.

Sumber: http://rahmandiligent.blogspot.com/p/golongan-penyebar-agama-islam-di.html


Pendapat lain menyatakan pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia abad ke-11. Pendapat ini mendasarkan bukti pada sebuah batu nisan Fatimah binti Maimun yang dikenal dengan Batu Leran di daerah Tuban Jawa Timur yang berangka tahun 1082 Masehi.

Ada juga yang berpendapat pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Pendapat ini berdasarkan bukti-bukti sebagai berikut:
  1. Batu nisan Sultan Malik al Saleh berangka tahun 1297 Masehi. Sultan Malik al Saleh adalah raja Samudra Pasai pertama yang masuk Islam. Kerajaan ini adalah kerjaan Islam pertama di Indonesia.
  2. Catatan perjalanan Marco Polo yang pernah singgah di Kerajaan Perlak (1292). Dalam catatannya menceritakan penduduk kota Perlak telah menganut Islam, sedangkan di luar kota belum, melainkan masih animisme dan dinamisme.
  3. Catatan Ibnu Battuta (12345 - 1346) yang menytakan bahwa Samudra Pasai menganut paham Syafi'i. Hal ini membuktikan bahwa Islam sudah berkembang di kerajaan tersebut.
  4. Catatan Ma-Huan musafir Cina ini memberitakan pada awal abad ke-15 Masehi sebagian besar masyarakat di pantai utara Jawa Timur telah memeluk agama Islam.
  5. Suma Oriental dari Tome Pires musafir Portugis memberitakn tentang penyebaran Islam antara tahun 1512 sampai tahun 1515 Masehi, yang meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga kepulauan Maluku.




perkembangan pendidikan pada abad pertengahan



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatannya kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan masalah ini.
Berikut ini, penulis persembahkan sebuah makalah (karya tulis) yang berjudul “perkembangan pendidikan pada abad pertengahan”. Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri.
Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam makalah ini, penulis mohon maaf, karna penulis sendiri dalam tahap belajar. Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terimakasih, kepada para pembaca. Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaat.

DAFTAR ISI

Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I Pendahuluan
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
BAB II Perkembangan Pendidikan Abad Pertengahan
Masa Renaissance
Pendidikan pada Masa Realisme
Pendidikan Masa Pencerahan (Aufklarung)
BAB III Penutup
Kesimpulan saran


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan Abad Pertengahan adalah tentang pendidikan yang dilaksanakan dalam periode abad pertengahan. Medieval pendidikan dipandang sebagai bentuk yang tidak biasa cukup pendidikan. Namun, pada abad ke-15, terdapat opsi bagi seorang siswa untuk dididik lebih lanjut. Beberapa sekolah bahkan bertempat kedua jenis kelamin, tapi ini siang hari saja. Anak-anak diajarkan dasar-dasar mereka, seperti bagaimana membaca dan menulis. Hal ini karena ini adalah persyaratan dasar jika mereka ingin diterima dalam magang di guild apapun.
pendidikan Abad Pertengahan juga terdiri dari anak-anak petani pergi ke sekolah. Namun, mereka terdiri jumlah yang sangat kecil. Mereka diajarkan bagaimana membaca dan menulis, dan juga belajar matematika dasar. Ini pendidikan bagi petani biasanya dilakukan di sebuah biara.
Sebagai bagian dari pendidikan abad pertengahan, perempuan mulia dan anak laki-laki bahkan dikirim untuk belajar di nunneries. Di sana, mereka akan menerima pendidikan dasar mereka. Para biarawati ini mengajarkan siswa bagaimana membaca dan menulis juga. Mereka juga akan mengajar mereka cara berdoa. Girls tambahan diajarkan bagaimana spin dan melakukan menjahit tengah keterampilan dalam negeri lainnya. http://www.360career.com Ini adalah ditanamkan dalam rangka mempersiapkan mereka untuk kehidupan selanjutnya, karena ini adalah keterampilan dasar yang diperlukan ketika seorang wanita menikah.
Jika seorang anak membawanya pendidikan atau serius di biara, dia akan memiliki kehidupan monastik. Namun, ini cukup langka untuk orang kota rata-rata atau petani. Juga, orang-orang ini akan dipilih dengan cermat untuk peringkat tersebut. Jika mereka dianggap cocok sesuai dengan sikap mereka, mereka akan dibawa oleh para biarawan.
Hari ini, praktik pendidikan abad pertengahan masih terlihat. Biara yang sama siswa pendidikan diberikan adalah refleksi jelas dari itu. Pendidikan bahwa anak-anak terima di sekolah-sekolah misionaris di berbagai belahan dunia juga mencerminkan bentuk semacam pendidikan. Perbedaan utama yang terlihat adalah adanya luas buku. Pada abad pertengahan, ada banyak sekolah yang beroperasi tanpa menggunakan buku. Siswa diajar oleh master terampil, dan sering dididik untuk imbalan meragukan. Orang kaya atau orang lain yang tidak menyediakan pendidikan di abad pertengahan melakukannya untuk keuntungan pribadi mereka. Ada sangat sedikit yang benar-benar ingin mendidik orang dalam semangat sejati lebih mencerahkan pikiran.
Seiring waktu telah berlalu, beberapa aspek pendidikan abad pertengahan telah pudar sementara yang lain tetap. Dapat dikatakan bahwa aspek-aspek pendidikan abad pertengahan yang berguna untuk tujuan pendidikan tetap. Terlepas dari beberapa karakteristik yang tersisa, keseluruhan proses telah berubah banyak. Hal ini karena pendidikan tidak bisa memiliki wajah yang sama seperti yang dilakukan ratusan tahun yang lalu. pendidikan hari ini berbeda dari pendidikan abad pertengahan dalam banyak hal. Misalnya, Anda memiliki dimasukkannya kerja kelompok dan kegiatan pembelajaran berbasis. Anda juga memiliki dimasukkannya komputer untuk pendidikan di zaman modern. Tak seorang pun di masa abad pertengahan akan pernah merenungkan penggunaan item tersebut.
Perkembangan penting lainnya untuk disebutkan, dan salah satu yang digunakan hampir di seluruh dunia adalah metode Montessori. Ini adalah sesuatu yang tidak ada dalam periode abad pertengahan, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk itu harus dipopulerkan sejak Maria Montessori pertama kali menggunakannya. Memang, Metode Montessori tidak dapat disamakan dengan setiap metode abad pertengahan pendidikan. Ini dikembangkan secara independen sebagai metode pengajaran yang inovatif. Selain Metode Montessori, ada area pengajaran lainnya hari ini yang telah dikembangkan tanpa pengaruh pendidikan abad pertengahan.
Meskipun pendidikan abad pertengahan telah memberikan dasar untuk pendidikan formal, beberapa orang lebih memilih untuk menyangkal metode pendidikan abad pertengahan pinjaman yang diberikan. Mereka percaya bahwa metode formal siswa yang duduk di kelas akan berkembang kemudian tetap, apakah pendidikan abad pertengahan digunakan pengaturan ini atau tidak. Hal ini masuk akal karena terpikirkan untuk setiap pengaturan lain untuk digunakan. Hal ini lebih jauh berpendapat bahwa lebih mungkin bahwa ini akan menjadi kasus dalam pendidikan modern karena interaksi siswa dianjurkan. Untuk interaksi mahasiswa lebih baik, ruang kelas sejumlah siswa akan cocok telah direkomendasikan. Terlepas dari argumen ini, kita masih menemukan banyak jejak pendidikan abad pertengahan di setup modern kita saat ini.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan permasalahan diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Apa saja yang ada di dalam perkembangan pendidikan pada masa abad pertengahan?
  2. Masa apa saja yang berkaitan pada perkembangan pendidikan pada abad pertengahan?
C.    TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah memberikan informasi tentang apa saja yang ada pada perkembangan pendidikan di abad pertengahan.



BAB II
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ABAD PERTENGAHAN

A.    MASA RENAISSANCE
Renaissance adalah gerakan maknawiyah, yang merupakan reaksi terhadap sikap hidup abad pertengahan. Renaissance (kelahiran kembali) kebudayaan klasik. Orang kembali mempelajari bahasa latin dan Yunani serta filsafatnya. Ciri dari masa ini adalah manusia ingin bebas dari ikatan abad pertengahan dan berusaha mencari pedoman baru dalam kebebasan individu. Cita-cita menjadi pendeta mulai ditinggalkan, mengarah pada masa kejayaan Republik Romawi. Cita-cita tersebut mendorong dipelajarinya berbagai pengetahuan. Berbagai aliran muncul pada masa ini, seperti: humanisme, reformasi, dan kontra reformasi.
  1. Humanisme
Lahir di Italia, pelopornya Petrarca dan Bocaccio. Dalam aliran humanisme, Tuhan sebagai pusat norma tertinggi ditinggalkan, cita-cita manusia dicari pada diri manusia sendiri. Ukuran kebenaran, kesusilaan, keindahan, dicari dan didapatkan pada manusia. Dampak bagi pendidikan dan pengajaran: alat pendidikan yang terpenting adalah mempelajari peradaban klasik.
Tujuan utama pengajaran mempelajari peradaban klasik, bahasa Yunani dan bahasa Latin. Pendidikan jasmani juga mendapat tempat terhormat. Akibatnya, pendidikan intelek mempunyai tempat yang terhormat dan menjadi maju, sedangkan pendidikan agama menjadi terbelakang. Dasar pendidikan etika tidak lagi agama, tetapi etika alam.
Tujuan pendidikan diarahkan pada pembentukan manusia berani, bebas, dan gembira. Berani diartikan sebagai percaya kepada diri sendiri, bukan taat kepada kekuasaan Tuhan seperti jaman pertengahan. Berani pula untuk memperoleh kemashuran yang telah dicita-citakan oleh ahli filsafat pada jaman Yunani dan Romawi. Bebas diartikan lepas dari ikatan gereja dan tradisi, berkembang selaras, individualistis, bukan manusia kolektifistis seperti pada abad pertengahan. Gembira berarti menunjukkan dirinya kepada kenikmatan duniawi, bukan kepada keakhiratan seperti abad pertengahan.
Pengaruh humanisme dalam organisasi sekolah: orang berpendapat bahwa negara harus turut campur dalam pengelolaannya. Pengaruh dalam penetapan bahan pelajaran: terdiri dari artes liberalis yang 7, dengan ditambah ilmu alam, menggambar, dan puisi.
  1. Reformasi
Awalnya muncul di Jerman, dipelopori oleh Luther dan Calvijn. Reformasi merupakan reaksi terhadap tindakan gereja yang pada masa itu membebani rakyat dengan bermacam pajak. Penagnut aliran ini ingin kembali pada ajaran nasrani, dan hanya mengakui injil sebagai satu-satunya sumber kepercayaan. Mereka menyangkal kekuasaan Paus dan konsili-konsili (permusyawaratan gereja), karena pertentangan itulah mereka disebut kaum protestan.
Berbeda dengan humanisme yang bersifat aristokratis (tertuju hanya kepada lapisan atas), dan membentuk sarjana; reformasi bersifat lebih demokratis, tertuju kepada seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal kepentingan, humanisme lebih tertuju pada kepentingan ilmu pengetahuan, estetika dan filsafat, sedangkan dalam reformasi mengutamakan kepentingan agama dan tidak setuju dengan filsafat Yunani. Bagi reformasi, bahasa latin dan Yunani hanya untuk memahami injil. Beberapa tokoh reformasi:
Luther
Merupakan seorang reformator dari Jerman. Pemikirannya dalam pendidikan:
a.       semua anak harus mengunjungi sekolah;
b.      anak-anak belajar hanya beberapa jam sehari, selebihnya waktu digunakan untuk mempelajari pekerjaan tangan;
c.       anak perempuan belajar satu jam dalam sehari, selebihnya mereka mengerjakan pekerjaan rumah tangga;
d.      anak-anak miskin yang betul-betul pintar saja yang disuruh belajar;
e.       posisi guru dihargai tinggi;
f.       pelajaran agama dianggap sebagai pelajaran paling penting.
Dalam karyanya, luther menterjemahkan injil dalam bahasa Jerman dan memberikan lagu-lagu agama. Dalam perjuangannya ia banyak mendapat bantuan dari raja-raja yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Paus Roma. Dalam penyelenggaraan pendidikan, negara ikut bertanggungjawab atas pengajaran, bukan lagi gereja seperti pada agama Katolik.
Calvijn
Dalam buku-bukunya ia banyak mengungkapkan tentang pentingnya pendidikan, serta pengaruhnya di dalam rumah tangga dan pendidikan agama. Dalam hal bahasa, Calvijn lebih mementingkan pelajaran bahasa latin. Di Geneva didirikan sebuah gymnasium yang juga memberikan pelajaran rendah dan satu sekolah tinggi.
Zwingli
Daerah yang dipengaruhi Zwingli lebih kecil dibandingkan Luther maupun Calvijn. Dalam paham paedagogisnya, pelajaran bahasa klasik adalah penting. Ilmu pengetahuan dan ilmu pasti harus diajarkan, tetapi tidak boleh mengambil waktu terlalu banyak. Pendapatnya yang baru adalah bahwa setiap murid harus mempelajari satu pekerjaan tangan. Ia mendirikan sekolah di Zurich, yang kemudian menjadi universitas.
  1. Kontra Reformasi
Renaissance dialami pula oleh gereja katolik, yang disebut sebagai kontra reformasi. Hal ini disebabkan oleh konsili di Trente (1543-1563) yang memutuskan akan memperbaiki keadaan dan menjalankan disiplin yang keras terhadap peraturan-peraturan gereja serta membela diri terhadap serangan-serangan kaum protestan. Dalam konsili itu dibicarakan juga usaha-usaha untuk memperluas pendidikan dan pengajaran. Para uskup harus mendirikan sekolah-sekolah seminari untuk memberi kesempatan anak-anak dari keluarga kurang mampu bisa masuk dengan gratis, untuk mendidik calon pendeta, mengajarkan agama kepada anak-anak dan orang dewasa dalam bahasa ibu.
Organisasinya disusun seperti susunan ketentaraan dengan paus sebagai “jenderalnya”. Biara menjadi sumber semangat perang untuk memberantas keingkaran orang terhadap agama serta memperluas pengaruh agama katolik dan memperkokoh kedudukan paus. Sekolah-sekolah banyak didirikan, mulai dari sekolah rendah sampai dengan universitas.
Mazhab Yezuit di bawah pimpinan Ignatius de Loyola menjadi pelopor dalam dunia pendidikan. rencana pendidikan kaum Yezuit tertera dalam “ratio studiorum”
B.     PENDIDIKAN PADA MASA REALISME
Aliran realisme muncul dalam bidang pendidikan kurang lebih tahun 1600. Aliran ini bertujuan untuk:
  1. meninggalkan cara-cara pembentukan secara klasik, seperti yang dianjurkan oleh humanisme;
  2. mengarahkan perhatian kepada dunia nyata, kepada alam dan benda-benda yang sebenarnya
aliran ini muncul disebabkan oleh:
  1. munculnya ilmu-ilmu kealaman; dan
  2. ambruknya sistim pengajaran yang bersifat humanistis.
Karena realisme inilah, dunia pengetahuan yang sampai saat itu masih terpengaruh oleh ajaran Aristoteles mulai goyah.
Munculnya ilmu-ilmu kealaman disebabkan karena manusia berambisi membongkar segala rahasia-rahasia alam. Manusia mulai mempergunakan fikirannya dengan lebih mendalam. Segala peristiwa alam diselidiki dan diamati. Maka muncullah penemuan-penemuan hebat, seperti penemuan Copernicus yang menyatakan bahwa dunia ini berputar mengelilingi matahari (bertentangan dengan pendapat sebelumnya, yaitu Ptolomaeus bahwa bumilah yang menjadi pusat semesta alam). Banyak musafir yang menjelajah ke segala jurusan untuk menemukan benua-benua baru. ketidaksanggupan ilmu-ilmu klasik dalam menerangkan kenyataan-kenyataan itulah, maka dicari jalan baru.
Tokoh yang berperan pada masa ini adalah:
Francis Bacon (1561-1626)
Idenya dalam pendidikan adalah:
a.       usaha-usaha untuk mencari metode baru;
b.      penggunaan metode induksi;
c.       penghargaan besar terhadap matapelajaran-matapelajaran realita: ilmu bumi, ilmu ayat, ilmu alam;
d.      penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar, nukan bahasa latin lagi.
Johan Amos Comenius (1592-1671)
Hasil karyanya yang terkenal adalah DIDACTICA MAGNA, yang menjelaskan tentang:
  1. tujuan pendidikan: pendidikan hendaknya diarahkan pada kehidupan di alam baka, dicapai dengan pembentukan ilmiah dan pendidikan budi pekerti serta kesalehan;
  2. metode: pendidikan harus disesuaikan dengan alam;
  3. hukum didaktik: kepastian; urutan yang tepat; kelancaran belajar; dan kecepatan belajar;
  4. pendidikan kesusilaan didasarkan pada ajaran-ajaran agama, bertujuan mencapai 4 kebajikan dari Plato (budi, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan).
C.    PENDIDIKAN MASA PENCERAHAN (AUFKLARUNG)
Gejala-gejala baru muncul pada abad ke-18, terutama pada pertengahan kedua dari abad itu. Seluruh kegiatan manusia saat itu ditujukan kepada usaha mengadakan pencerahan terhadap abad kegelapan. Abad kegelapan adalah ialah abad pertengahan, yang roh jamannya dianggap berakhir setelah abad ke-18 tiba.
Pada masa ini manusia ingin bebas dari ikatan gereja dan tradisi, hasilnya gereja dan negara terpisah. Dalam pendidikan, dituntut agar negara yang harus menyelenggarakan pengajaran, terutama bagi rakyat umum, lepas sama sekali dari pengaruh gereja (tuntutan ini baru berhasil pada akhir abad ke-19).
Seluruh gerakan rohaniah dalam pelbagai lapangan itulah yang disebut sebagai Pencerahan, yang telah menguasai alam pikiran orang di Eropa Barat pada abad ke-18 dan ke-19. dua aliran maknawiyah yang berkembang dan saling mempengaruhi saat itu adalah:
1.      Empirisme
Aliran ini beranggapan bahwa sumber dari segala pengetahuan dan kebenaran adalah empiri atau pengalaman. Segala sesuatu harus dicari dari bahan-bahan yang telah kita peroleh dari pengalaman kita sendiri. Paham ini berasal dari Inggris, dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626).
Dalam paham ini, barangsiapa yang menghendaki ilmu pengetahuan harus mengadakan penyelidikan sendiri. Ia harus mencari gejala-gejalanya, kemudian menyusunnya dengan teliti dan dengan menempuh jalan induksi sampai pada hukum-hukum yang umum. Oleh karena itu empiri dan induksi merupakan satu-satunya jalan untuk memperoleh pengetahuan. Dengan penyelidikan sendiri, pengamatan fakta-fakta dan pengalaman adalah terbesar maknanya. Aliran ini kemudian lebih diperluas dan diuraikan oleh kaum empiris bangsa Inggris lainnya, seperti John Locke, Berkeley, dan Hume.
2.      Rationalisme
Aliran ini lahir di Prancis dan Descartes (1596-1650), berpendapat bahwa sesuatu itu dianggap benar jika sesuai dengan akal fikiran. Fikiran manusia akan sanggup memecahkan segala persoalan. Untuk menuju ke arah kemajuan dan kesempurnaan, ditempuh jalan fikiran yang sehat.
Rationalisme merupakan kelanjutan dari perlawanan terhadap ajaran-ajaran yang bersifat dogmatis dan tradisi, yang mulai tampak pada abad ke-15 dan ke-16. menurut rationalisme, pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pengamatan alat dria (induksi) masih diragukan kebenarannya. Yang jelas dapat dipercaya adalah kenyataan, bahwa manusia itu berpikir. Ia berpikir dengan akalnya, maka akal budinya itulah yang berkuasa dalam hidupnya.
Penyebab manusia berpikir tidak terletak pada manusia sendiri, tetapi pada Tuhan. Yang mengatakan hal itu adalah budi atau akal kita. Budi itulah yang menetapkan norma-norma hidup. Rationalisme menempatkan budi itu di atas wahyu Ilahi. Budi menetapkan apa yang dapat kita terima dan apa yang tidak, juga di lapangan agama.
Beberapa ahli pendidikan besar yang menguasai paedagogik (ilmu mendidik) pada abad ke-18 di antaranya adalah:
John Locke
Sistem pendidikannya sesuai dengan teori tabula-rasa, percaya bahwa pendidikan itu maha kuasa. Jiwa seorang anak sama dengan sehelai kertas putih yang kosong, yang dapat ditulisi sekehendak hati oleh pendidik, sehingga semua pengetahuan datang dari luar karena pengaruh faktor-faktor lingkungan. Locke tidak mempermasalahkan sama sekali pengaruh pembawaan si anak. Dalam paedagogik, aliran ini disebut Paedagogis optimisme, sebagai lawan dari paedagogis pessimisme (nativisme) yang menganggap bahwa perkembangan jiwa itu adalah hasil daripada faktor pembawaan belaka. Bagi Locke bentuk pengajaran yang terbaik adalah belajar sambil bermain. Nilai formil lebih penting daripada nilai materiil, oleh karena itu Locke lebih mengutamakan pembentukan kesusilaan daripada pembentukan akal.
Dalam pendidikan kesusilaan, manusia itu harus selalu dapat menguasai diri sendiri dan memiliki rasa harga diri. Sejak kecil anak harus dibiasakan berbuat baik, untuk itu
pendidik hendaknya memegang teguh kewibawaannya. Ia tidak setuju dengan hukuman jasmani dan pemeberian hukuman.
Dalam pendidikan agama, Locke memperingatkan agar pelaksanaan pendidikan keagamaan tidak berlebih-lebihan. Ia menganggap injil tidak tepat bagi anak-anak, kecuali beberapa ceritera sebagai bahan bacaan anak-anak. Pengaruh Locke di Inggris tampak di sekolah-sekolah bagi anak-anak bangsawan (public school). Ajaran dan cita-citanya sebagian kita jumpai lagi pada Rousseau dan kaum Philanthropijn.
J.J. Rousseau (1712-1778)
Cita-cita pendidikan Rousseau kita jumpai dalam bukunya “Emile”, yang ditulisnya bagi golongan bangsawan dan kaum terpelajar. Ketika itu anak-anak golongan tersebut mendapat pendidikan dari gubernur-gubernur, yang tidak mengenal perkembangan anak yang sewajarnya dan tidak memberikan kebebasan.
Tujuan pendidikan menurutnya adalah membentuk manusia yang bebas dan merdeka. Sifat pendidikan yang dijalankan individualistis, anak harus dijauhkan dari pengaruh masyarakat, bahkan dari pengaruh orang tuanya.
Dasar pendidikannya adalah pembawaan anak yang baik. Ia percaya bahwa anak sejak lahir berpembawaan baik. Jika kelak anak itu berkelakuan buruk, hal itu disebabkan karena adanya pengaruh-pengaruh jahat dari dunia sekitar/lingkungannya.

BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Perkembangan pendidikan di abad pertengahan memiliki tiga tahap masa perkembangan. “Masa Renaissance yang memiliki 3 aliran antara lainhumanisme, reformasi, dan kontra reformasi”, “Masa Realisme” &  “Masa Pencerahan (Aufklarung) yang memiliki 2 aliran antara lain: Empirisme dan Rationalisme”
B.     SARAN
Pendidikan pada masa abad pertengahan merupakan gambaran tentang sejarah perkembangannya sebuah pendidikan yang kita alami sekarang, jelas sudah bahwa selalu terjadi pembaharuan dari setiap masa kemasa dengan tujuan yang sama adalah demi meningkatkan kualitas manusia. Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kemajuan dan kemanfaatan penulisan ini, akhirkata penulis mengucapkan terima kasih. Wassallam.






DAFTAR PUSTAKA

Beeby, C.E. (1982). Pendidikan di Indonesia, Penilaian dan Pedoman Perencanaan. Jakarta: LemLit Pendidikan&Penerangan Eko&Sos
Dyah Kumalasari. (2007). Dinamika Pendidikan Indonesia Pada Masa Kolonial. Jurnal Istoria. Yogyakarta: Pendidikan Sejarah FISE UNY
I. Djumhur. (1974). Sejarah Pendidikan. Bandung: CV Ilmu
M. Ngalim Purwanto. (2002). Ilmu Pendidikan, Teoretis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Mansur, Dahlan, dan M.Said. (1989). Mendidik dari Zaman ke Zaman. Jakarta: PT.Rajawali Press
Palmer.A.Joy. (2003). 50 Pemikir Pendidikan: Dari Piaget Sampai Masa Sekarang. Yogyakarta: Jendela
Soegiono. (1993). Tokoh-Tokoh Pendidikan Dunia. Jakarta: CV. Ilmu
UU. No. 20 Tahun 2003
Zuhairini, dkk. (1997). Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

makalah sosiologi kota dan desa



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatannya kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Berikut ini, penulis persembahkan sebuah makalah (karya tulis) yang berjudul “SOSIOLOGI KOTA DAN DESA”. Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri.
Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam makalah ini, penulis mohon maaf, karna penulis sendiri dalam tahap belajar. Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terimakasih, kepada para pembaca.
Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaat.

Palattae, 2014

Penulis
A M Taufik  AmalRos

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Melihat dari berbagai aspek kehidupan yang terjadi di masyarakat pada saat ini, masih terjadinya beberapa fenomena pergeseran nilai, norma serta adat istiadat kaitannya dengan pemahaman tentang masyarakat desa dan kota. Hal tersebut dapat ditinjau dari ilmu sosiologi, dimana yang menjadi obyek adalah masyarakat yang dilihat dari hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
Bertolak pada core of the problem dan reasoning yang ada, maka perlu pemahaman yang jelas mengenai konsep masyarakat kota dan desa yang ditinjau dari segi ilmu sosiologi. Jadi diharapkan adanya pemahaman yang mendasar agar tidak terjadi suatu penyimpangan dalam nilai, normadan adat istiadat yang ada dalam masyarakat kota maupun desa.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada diatas, maka yang manjadi garis besar dalam pembahasan makalah mini ini adalah :
  1. Apa definisi Sosiologi, masyarakat, desa dan kota?
  2. Apa alasan pemahaman terhadap konsep sosiologi perdesaan dan perkotaan itu penting?
  3. Bagaimana Konsep Sosiologi Desa dan Kota?
  4. Bagaimana Komplesitas Masyarakat Desa Kota dalam perspektif Sosiologi?

BAB II
PEMBAHASAN

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga dengan moral; hukum dengan ekonomi; gerak masyarakat dengan politik dan lain sebagainya (Pitirim Sorokin). Jadi dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari seluruh tingkah laku kehidupan manusia di suatu lingkungan yang di mana di dalamnya terdapat manusia-manusia lain yang saling berhubugan antara yang satunya dengan yang lainnya lagi, sehingga terjadi suatu interaksi di seluruh bidang kehidupan.
Masyarakat dalam konteks sosiologi adalah society. Kata society berasal dari istilah socius, artinya teman dalam mana di suatu pihak bermakna sebagai kawan, tetapi di lain pihak dapat berarti lawan. Dengan kata lain masyarakat dapat diartikan sebagai kawan atau sebagai lawan , mereka saling bergaul dan berinteraksi sehingga merupakan suatu sistem sosial yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Menurut Talcott Parson suatu kelompok dapat disebut masyarakat apabila memenuhi empat kriteria, yaitu (1) kemampuan bertahan melebihi masa hidup seorang individu; (2) rekrutmen seluruh atau sebagian anggota melalui reproduksi; (3) kesetiaan pada suatu sistem tindakan untuk bersama; (4) adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada. Sehingga kumpulan penghuni suatu asrama tidak dapat kita namakan masyarakat, karena mereka tidak dapat memproduksi kebutuhan pokok mereka seperti sandang dan pangan; usia kelompok ini biasanya tidak melebihi masa hidup salah seorang anggotanya; anggota asrama direkrut dari keluarga-keluarga dan bukan dari reproduksi; serta anggota asrama tidak terlibat dalam sosialisasi awal terhadap generasi penghuni asrama berikutnya.
Pengertian Desa menurut Sutardjo Kartodikusuma adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri. Sedangkan Kota menurut Wirth adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Masyarakat desa dan masyarakat kota secara sosiologis dapat ditelaah melalui konsep sistem sosial, sistem interaksi, pertukaran sosial dan saling ketergantungan. Konsep masyarakat itu adalah sama dengan saling ketergantungan antara sistem sosial, sistem interaksi dan sistem pertukaran sosial. (lexie M. Giroth, 2004 : 187).
Bertolak dari pengertian yang ada, maka kita dituntut untuk memahami secara mendalam mengenai konsep sosiologi masyarakat perdesaan dan perkotaan. Adapun alasannya adalah agar tidak terjadi penyimpangan atau pengalihan pemahaman kita akan nilai-nilai yang terkandung dalam interaksi yang terjadi baik di desa maupun di kota. Pemahaman konsep sosiologi terhadap desa dan kota dapat dihampiri antara lain melalui tipologi masyarakat dalam hubungannya dengan perdesaan dan perkotaan sebagai tempat tinggal penduduk yang mempengaruhi gaya hidup mereka.
Teori mengenai tipe masyarakat desa atau gemainschaft, community, komunitas, paguyuban, rural community, civic society dengan karakteristiknya adalah afektivitas, orientasi kolektif, partikularisme, askripsi dan diffuseness. Sedangkan masyarakat kota atau gesselchaft, society, societas, patembayan, urban community, civil society dengan karakteristiknya adalah netrali afektif, orientasi diri, universalisme, prestasi, dan specifitas. (Lexie M. Giroth, 2004 : 188) Setelah mamahami konsep sosiologi masyarakat desa dan kota, maka yang menjadi core of the problem selanjutnya adalah adanya hubungan antara masyarakat desa dan masyarakat kota, dimana adanya interdependensi atau saling ketergantungan masyarakat baik yang bertempat tinggal di desa maupun di kota. Hal tersebut dapat digambarkan dengan adanya kertergantungan antara institusi yang ada dalam masyarakat baik desa maupun kota.
Interdependensi yang ditunjukkan baik antara institusi agama, ekonomi, politik, keluarga dan pendidikkan. Kelima institusi ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya, dan apabila ada yang tidak singkron maka akan terjadi ketimpangan antara masyarakat desa dan kota. Penekanan ini lebih menitik beratkan adanya keselarasan antara pola perilaku masyarakat baik desa dan kota, walau hanya dibatasi oleh ruang lingkupnya, yang berpengaruh kepada karakter atau perilaku masyarakatnya. Tetapi pada dasarnya masyarakat kota terdiri dari masyarakat desa terlebih dulu, maksudnya dikotapun masih ada pola perilaku masyarakat desa yang menitik beratkan kepada karakteristik afektivitas, orientasi kolektif, partikularisme, askripsi dan diffuseness.
Pengertian, Arti dan Definisi Desa Dan Kota
Pengertian Desa
Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1979 Tentang pemerintah daerah Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum, yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah, langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. Menurut Sutardjo Kartohadikusumo Desa adalah suatu kesatuan hukum tempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Menurut prof.Drs.Bintato, desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografis, social, ekonomi, politik dan kulural yng terdapat di suatu daerah dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbale balik dengan daerah lain.
Pengertian Kota
Menurut Prof. Drs. R. Bintarto Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Menurut Max Weber Kota adalah suatu tempat yang penghuninya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Secara Umum Kota merupakan tempat bermukim warga kota , tempat bekerja tempat kegiatan dalam bidang ekonomi, pemerintahan, dsb.
Sosiologi Perdesaan dan Sosiologi Perkotaan
Sosiologi pedesaan adalah sosiologi yang melukiskan dan mencakup hubungan manusia didalamnya dan antara kelompok – kelompok yang ada di lingkungan pedesaan (rural dalam bahasa inggris). Perkataan pedesaan dalam pemakaian sehari- hari mudah saja untuk dimengerti. Tetapi jika harus diberikan batasan yang tepat adalah sukar juga. Jika kita ikuti Maksud untuk mempelajari sosiologi pedesaan adalah untuk mengumpulkan keterangan mengenai masyarakat pedesaan dan hubungan-hubungannya.yang melukiskan setelitinya tingkah laku, sikap, perasaan, motif, dan kegiatan manusia yang hidup dalam lingkungan pedesaan itu. Hasil dari penelitian sosiologi pedesaan tadi dapat di pergunakan untuk usaha-usaha perbaikan penghidupan dan kehidupan manusia pedesaan. Misalnya usaha penyuluhan pertanian.
Sosiologi perkotaan atau yang sering disebut “urban sociology” adalah kajian sosiologis mengenai kota-kota, seperti prilaku masyarakat kota, pola interaksi masyarakat kota, hubungan social masyarakat kota, problematika dalam masyarakat kota dan lain-lain.
Perbedaan Masyarakat Desa dan Kota
Masyarakat Pedesaan
1).   Perilaku homogen
2).   Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
3).   Perilaku yang berorientasi pada tradisi dan status .
4).   Isolasi sosial, sehingga static
5).   Kesatuan dan keutuhan cultural
6).   Banyak ritual dan nilai-nilai sacral
7).   Kolektivisme
8).   Sederhana
9).   Mudah curiga
10). Menjunjung tinggi “unggah-ungguh” atau kesopanan
11). Lugas
12). Tertutup dalam hal keuangan
13). Perasaan “minder” terhadap orang kota
14). Menghargai (“ngajeni”) orang lain
15). Jika diberi janji, akan selalu diingat
16). Suka gotong-royong
17). Demokratis
18). Religius

Masyarakat Kota:
1)      Perilaku heterogen
2)      Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
3)      Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
4)      Mobilitassosial,sehingga dinamik
5)      Kebauran dan diversifikasi cultural
6)      Birokrasi fungsional dan nilai-nilaisekular
7)      Individualisme
8)      Kehidupan keagamaannya berkurang,
9)      Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
10)  Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
11)  Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
12)  Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
13)  Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Manusia menjalani kehidupan didunia ini tidaklah bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh bantuan dan pertolongan orang lain , maka dari itu manusia disebut makhluk sosial. Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan Sosial, yang kaya makin Kaya dan yang Miskin tambah melarat , mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya (dekadensi moral ) hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal.
Sehubungan dengan itu, barangkali kita berprasangka atau mengira fenomena-fenomena yang terjadi diatas hanya terjadi dikota saja, ternyata problem yang tidak jauh beda ada didesa, yang kita sangka adalah tempat yang aman, tenang dan berakhlak (manusiawi), ternyata telah tersusupi oleh kehidupan kota yang serba boleh dan bebas itu disatu pihak masalah urbanisasi menjadi masalah serius bagi kota dan desa, karena masyarakat desa yang berurbanisasi ke kota menjadi masyarakat marjinal dan bagi desa pengaruh urbanisasi menjadikan sumber daya manusia yang produktif di desa menjadi berkurang yang membuat sebuah desa tak maju bahkan cenderung tertinggal.
Saran - saran
Pembangunan Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius. Problem itu tidak akan menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan




   











BAHAN BACAAN

Beilharz, Peter, 2003, Teori Teori Sosial, Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Coser, Lewis A., 1982, Sociological Theory: A Book of Readings, MacMillan Publishing, Co., Inc., USA.
Daldjoeni, N., 1997, Seluk Beluk Masyarakat Kota, Alumni Bandung.
Fatchan, A., 2004, Teori-teori Perubahan Sosial, Yayasan Kampusina Surabaya.
Giddens, Anthony, 2004, Sociology: Introductory Readings, Polity, UK.
Haralambos, Michael dan Martin Holborn, 2000, Sociology, Themes and Perspectives, Fifth Edition, Collins Educational, London.
Kaldor, Mary, 2004, Global Society, Polity, UK.
Kinloch, Graham C., 2005, Perkembangan dan Paradigma Utama Teori Sosiologi, Pustaka Setia Bandung.
Leibo, Jefta, 1995, Sosiologi Pedesaan, Andi Offset Yogyakarta.
Ritzer, George, 1996, Modern Sociological Theory, The McGraw-Hill Companies, Inc.
Sanderson, Stephen K., 1993, Sosiologi Makro, Rajawali Press Jakarta.
Sukmana, Oman, 2005, Sosiologi dan Politik Ekonomi, UMM Press Malang.
Sztompka, Piƶtr, 2005, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada Jakarta.
Zaltman, Gerald, 1972, Processes and Phenomena of Social Change, John Willey & Sons, Inc., New York.